Monmonvandemon's Blog

Sarana Berbagi Pengetahuan dan Ilmu

Kisah nyata Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Direktur Rumah Sakit Qashrul Aini


Ini adalah cerita nyata, yang dikisahkannya sendiri , lalu disunting menjadi
cerita. Mudah2an kita bisa belajar.

Tiga puluh tahun yang lalu Mamduh, adalah seorang pemuda, hidup di tengah
keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayahnya seorang perwira tinggi,
keturunan “Pasha” yang terhormat di negeri ini. Ibunya tak kalah
terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia
berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting
dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.
Mamduh adalah anak sulung, adiknya dua, lelaki dan perempuan. Mereka hidup
dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup
sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar
mereka hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan
high class yang sepadan! Karena ayah memperoleh warisan yang sangat besar
dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka
mereka hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, mereka biasa
berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia
lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan
keluarga mereka adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang
berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Entah kenapa Mamduh merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Ia
merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan
keluarga. Mamduh tidak merasakan benar hidup yang Ia cari. Mamduh lebih
merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang
menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata
membuat gusar keluarganya, mereka menganggap Mamduh ceroboh dan tidak bisa
menjaga status sosial keluarga. Pergaulannya dengan orang yang selalu basah
keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun
Mamduh tidak peduli.

Begitu masuk fakultas kedokteran, Mamduh dibelikan mobil mewah. Berkali-kali
Ia minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih
enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak
mentah-mentah. “Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa
saja” tegas ayah. Terpaksa Mamduh pakai mobil itu meskipun dalam hatinya
membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di
hati, Ia parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.
Mamduh kemudian jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh
pesona lahir batin. Ia tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan
kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya Ia menangkap dalam relung
hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan
kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama
seperti saya. Gayung pun bersambut. Gadis itu ternyata juga mencintainya.
Mamduh merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Mereka berjanji
untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu
ikatan pernikahan.
Akhirnya mereka berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka
datanglah saat untuk mewujudkan impian mereka berdua menjadi kenyataan.
mereka ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus. Mamduh
mengutarakan keinginannya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada
keluarga. Ia ajak gadis itu berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan
saudara-saudaranya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan
kecerdasannya. Ibunya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta
tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu
diberitahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas
yang ada di dekatnya. Bahkan ayahnya mengultimatum: Pernikahan ini tidak
boleh terjadi selamanya! Ayahnya menegaskan bahwa selama masih hidup,
rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi.
Pembuluh otak Mamduh nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam
kepedihan batin yang tak terkira.

Ayah Mamduh berlaku sedemikian sadis, karena ayah calon istrinya itu tukang
cukur, sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan. Ibu, saudara dan semua
keluarga berpihak kepada ayah. Ia berdiri sendiri, tidak ada yang membela.
Pada saat yang sama adiknya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke
rumah. Minta direstui. Ayah ibu Mamduh langsung merestui dan menyiapkan
biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds.
Mamduh protes mendapat perlakuan tidak adil seperti itu. Kenapa Ia yang
ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adiknya yang
jelas- jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili
pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan
diberi fasilitas maha besar?
Dengan enteng ayahnya menjawab. “Karena kamu memilih pasangan hidup dari
strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar
adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga
besar Al Ganzouri.”

Dengan menyebut asma Allah, Mamduh memutuskan untuk membela cinta dan
hidupnya. Ia kemudian menemui ayah calon istrinya. Dengan penuh kejujuran
dijelaskannya apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku
bijak merestui rencananya.
Namun, Mamduh kembali dikejutkan oleh sikap ayah istrinya. Setelah
mengetahui penolakan keluarganya, ayah istrinyapun menolak mentah- mentah
untuk mengawinkan putrinya dengannya. Ayahnya tidak akan menganggap calon
istrinya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengannya.
Mamduh dan calon istrinya berdua bingung. Keluarga Mamduh menolak pernikahan
ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga calon istrinya
menolak karena alasan membela kehormatan. Berhari-hari mereka hidup
berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak
memiliki kesejukan cinta?
Setelah berpikir panjang, akhirnya Mamduh mengajak gadis yang Ia cintai itu
ke kantor ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat
karibnya. Mereka memberikan identitas mereka dan Ia minta ma’dzun untuk
melaksanakan akad nikah mereka secara syari’ah mengikuti mahzab imam Hanafi.
Ketika Ma’dzun menuntunnya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Aku terima
nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita
sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.” Seketika itu
bercucuranlah air matanya, air mata istrinya dan air mata 3 sahabatnya yang
tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu.
Mereka keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata
Allah SWT dan manusia. Ia bisikkan ke istrinya agar menyiapkan kesabaran
lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.
Seperti yang Ia duga, akad nikah mereka membuat murka keluarga. Prahara
kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan mereka, Mamduh
diusir oleh ayahnya dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita.
Ia pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa
potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang Ia
miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.
Istrinya pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas
kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total mereka
hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!! Ah, apa yang bisa mereka lakukan
dengan uang 6 pound?

Mereka berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan
Februari, tepat pada puncak musim dingin. Rasa cemas, takut, sedih dan
sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata mereka yang
berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih
sayang.
“Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini.
Maafkan aku!”
“Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah
berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa
menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil.
Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah.
Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya
Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa
dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa
hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai
kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada
mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras
seperti derasnya air mata derita kita saat ini,” jawab isterinya dengan
terisak dalam pelukan.
Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada Mamduh. Lahirlah rasa
optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi
teringat bahwa satu bulan lagi mereka akan diangkat menjadi dokter. Dan
sebagai lulusan terbaik masing-masing dari mereka akan menerima penghargaan
dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. mereka duduk di
emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan,
otak mereka terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin mereka tidur
di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound
itu mereka masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam. Ia berhasil
menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Temannya
bahkan mengantarkan mereka mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.
Saat mereka berteduh dalam kamar sederhana, segera mereka disadarkan kembali
bahwa mereka berada di lembah kehidupan yang susah, mereka harus
mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang
dan perjuangan keras mereka berdua serta rahmat Allah SWT. Mereka hidup
dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman mereka berhasil menemukan rumah
kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah.
Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan mereka mungkin dipandang sepantasnya
adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang
kesayangan mereka mungkin lebih bagus. Namun bagi mereka adalah hadiah dari
langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah
menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit.
Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima
akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak
lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.
Betapa bahagianya mereka saat itu, segera mereka pindah kesana. Lalu mereka
pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah
kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu
kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja…
tak lebih. Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, mereka
merasa tetap bahagia, karena mereka selalu bersama. Adakah di dunia ini
kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup
bahagia adalah hidup dengan gairah cinta.
Melalui penghayatan cinta ini, mereka menemukan jalan-jalan lurus
mendekatkan diri kepada-Nya. Istrinya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu
memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma
menjadi Rabi’ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada
waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia
memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat. Ia bertekad untuk
hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang
wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang
tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi
selama sebulan.
Mereka hidup baik dengan tetangga mereka. Tetangga mereka merasa kasihan
melihat kemelaratan dan derita hidup mereka, padahal mereka berdua adalah
dokter. Sampai- sampai ada yang bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para
dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti
Mamduh dan isterinya.” Akrabnya pergaulan dengan para tetangga banyak
mengurangi nestapa mereka. Beberapa kali tetangga mereka menawarkan
bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan
menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena mereka memang dokter
yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu
membersihkan rumah. Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya
perlakuan yang mereka terima dari keluarga mereka sendiri.

Keluarga mereka bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan
mengunjungi mereka. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan mereka
hidup tenang. Suatu malam, ketika mereka sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah
mereka digedor dan didobrak oleh 4 utusan ayah Mamduh. Mereka merusak segala
perkakas yang ada. Meja kayu satu- satunya, mereka patah-patahkan, begitu
juga dengan kursi. Kasur tempat mereka tidur satu-satunya mereka
robek-robek. Mereka mengancam dan memaki mereka dengan kata-kata kasar. Lalu
mereka keluar dengan ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karena berani
menentang Tuan Pasha.” Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah
ayahnya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral.

Mamduh dan istrinya berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan
membangun kekuatan. Lalu mereka tata kembali rumah yang hancur. mereka
kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, mereka masukan lagi ke dalam
kasur dan mereka jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. mereka tata
lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha
mereka perbaiki. Lalu mereka tertidur kecapaian dengan tangan erat
bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan
kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasatnya mengatakan ayah tidak akan membiarkan mereka hidup tenang.
Mamduh mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayahnya telah merancang
skenario keji untuk memenjarakan isterinya dengan tuduhan wanita tuna
susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini.
Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki
mereka. Mamduh hanya bisa pasrah kepada Allah mendengar hal itu.
Ayahnya akhirnya mengurungkan niat jahatnya itu, setelah seorang teman
karibnya berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil
membujuknya agar menceraikan isterinya. Teman karibnya meminta ayah Mamduh
untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi
pasti pemberontakannya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih
nekad. Tugas temannya itu adalah mengunjungi ayahnya setiap pekan sambil
meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan Mamduh untuk menceraikan
istrinya. Inilah skenario temannya itu untuk terus mengulur waktu, sampai
ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara Mamduh bisa
mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun
penuh Mamduh menjalani wajib militer. Inilah masa yang Ia takutkan, tidak
ada pemasukan sama sekali kecuali 6 pound setiap bulan. Dan Ia mesti
berpisah dengan belahan jiwa yang sangat Ia cintai. Nyaris selama 1 tahun
Mamduh tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isterinya.
Tetapi Allah tidak melupakan mereka. Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba-Nya yang beriman. Isterinya hidup selamat bahkan dia mendapatkan
kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah. Jadi selama satu
tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.
Selesai wajib militer, Ia langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada
kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam
itu Ia tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Mamduh
mengutarakan niatnya meninggalkan Mesir, untuk hidup bagai penyair Palestina
yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu
derita, berjalan kemana kaki melangkah.

Namun istrinya malah punya pandangan lain. Istrinya malah bersikeras untuk
masuk program Magister bersama! “Gila… ide gila!!!” pikirnya saat itu.
Bagaimana tidak…ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan
Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi
permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istrinya tetap bersikukuh
untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang sulit Ia tolak: “Kita
berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari
Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar
sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita
sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum
penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan
mimpi indah kita.” Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan
keraguan atau ketakutan sama sekali.

Berhadapan dengan tekad baja istrinya, hati Mamduh pun luluh. Diikutinya
ajakan istrinya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.
Jadilah mereka berdua masuk Program Magister. Dan mulailah mereka memasuki
hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan
kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris mereka
hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang
mereka lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari
mereka lalui bersama dengan perut kosong, teman setia mereka adalah air
keran. Masih terekam dalam memorinya, bagaimana mereka belajar bersama dalam
suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, mereka obati
dengan air. Yang terjadi malah mereka muntah-muntah. Terpaksa uang untuk
beli buku mereka ambil untuk pengganjal perut. Siang hari, jangan tanya…
mereka terpaksa puasa.
Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan. Meski demikian
melaratnya, mereka merasa bahagia. mereka tidak pernah menyesal atau
mengeluh sedikitpun. Tidak pernah Mamduh melihat istri nya mengeluh, menagis
dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan
karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada suaminya.
Dia kasihan melihat keadaan suaminya yang asalnya terbiasa hidup mewah,
tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.
Sebaliknya, Mamduhpun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya
hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan
yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternya
menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya. Ia tidak bisa lagi
melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya. Setiap kali
Ia angkat kepala dari buku, yang tampak di depannya adalah wajah istrinya
yang lagi serius belajar. Ia kagum pada bidadarinya ini. Merasa
diperhatikan, istrinya akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatapnya
penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan
terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.
“Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…” bisiknya mesra sambil
tersenyum. Lalu mereka teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha mereka tidak sia-sia. mereka berdua meraih gelar
Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, mereka
belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun mereka masih
hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak
dalam hidup kami.
Akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, mereka berhasil
meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Untuk pertama
kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, mereka mengenal hidup
layak dan tenang. Mereka hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur
di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.
Dua tahun setelah itu, mereka dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, Ia rindu untuk kembali ke Mesir setelah
memiliki rumah yang layak. Tetapi istrinya memang ‘edan’. Ia kembali
mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program dokter spesialis
di London, juga dengan logika yang sulit ditolaknya: “Kita dokter yang
berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki
uang yang cukup untuk mengambil gelar itu di London. Setelah bertahun-tahun
hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis
tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit
telah menyediakan dana tambahan.”

Dengan bismillah… Mamduh dan istrinya berangkat ke London. Singkatnya,
dengan rahmat Allah, mereka berdua berhasil menggondol gelar dokter
spesialis dari London. Mamduh menjadi spesialis syaraf dan istrinya
spesialis jantung. Setelah memperoleh gelar dokter spesialis, mereka meneken
kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya.
Mamduh bahkan diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istrinya sebagai
wakilnya! mereka juga mengajar di Universitas. mereka pun dikaruniai seorang
putri yang cantik dan cerdas. Ia namai dia dengan nama istri terkasih,
belahan jiwa yang menemaninya dalam suka dan duka, yang tiada henti
mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, mereka pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya
menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. mereka kembali laksana raja dan
permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini mereka hidup
bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup
menderita, melarat dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa
syukur mereka kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta mereka
Ini kisah nyata Mamduh yang disampaikannya kepada muridnya sebagai nasehat
hidup. Istrinya dikenal sebagai Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz. Mamduh
sendiri adalah Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri, Ketua Ikatan Dokter Kairo
dan Direktur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di
Timur Tengah.

May 22, 2010 - Posted by | All About Love, Religi, Renungan Hidup

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: